ITB Mengajar: Mengajari Anak Memahami Luas dan Keliling, Mengajari Saya (Sedikit Lebih) Menyukai Anak Kecil
ditulis oleh Hana Rosami, Fisika 2007, kesan pertama kali dia mengajar di SKHOLE Gue ga suka anak kecil. Demi bangsa dan almamater, gue ga suka anak kecil. Kayaknya emang itu faktor keturunan deh. Nenek gue ga suka anak kecil. Emak gue ga suka anak kecil. Babeh gue ga bisa bedain mana anak kecil mana anak anjing. Mungkin itu karena di kampung gue, anak kecil dan anjing sama-sama dimakan (ini bohong, tapi ada yang percaya lho). Bahkan ketika ngejenguk sodara gue yang masih bayi, selagi orang-orang lain pada gendong2 cubit2 dan unyu2, gue cuma berani meletakkan ujung jari gue selama 3 detik di permukaan kulitnya yang tampak paling tidak sensitif, trus menyingkir ke pojokan dan menyeringai tiap sodara-sodara gue ngomong, “baaaa!” Maaf ya, pria-pria yang kecewa, ternyata gue bukan calon istri idaman kalian *halah* Eh, tapi notes ini bukan tentang ketidaksukaan gue ama anak kecil. Jadi, begini, Senin tanggal 23 Mei 2011, gue mencoba ikut ngajar bocah-bocah Pelesiran bareng SKHOLE (http://skholeitb.wordpress.com/ , http://skholeitb.tumblr.com/ , follow twitter @ITBMengajar). Kejadiannya pun random: gue lagi duduk-duduk lapuk di himpunan, terus lewatlah beberapa temen gue. Pas gue tanya mau ke mana, mereka bilang mau ngajar anak-anak SD di Kebon Bibit. Entahlah, mungkin karena kejiwaan gue yang sedang tergoncang akademik, gue melakukan hal yang tidak disangka-sangka: gue menyatakan kalau gue mau ikut SKHOLE. Ata dan Laura tampak sedikit tertegun. Naya tampak tidak percaya. Tapi biarlah. Terkadang, ketika ilham menghampiri manusia, manusia akan menantang dirinya sendiri. Sebagian orang akan terjun dari tebing. Sebagian lagi akan ngebut-ngebutan. Almarhum Chris McCandless menyusuri sebagian dari Amerika dan mendaki Denali di Alaska. Hana akan menghadapi B.O.C.A.H. Berangkatlah pasukan menuju Kebon Bibit. Sesampainya di TKP, kita berkenalan dengan beberapa belas anak usia SD. “Nama saya Hana, dari Fisika ITB. Halo!” disambut dengan sopan oleh anak-anak, “Halo.” Hmmm. Mungkin lain kali “Fisika ITB”nya ga perlu disebut. Selesai perkenalan, si Sri – yang tampaknya paling berpengalaman di sini – memasang-masangkan anak-anak dengan para pengajar, “Siapa aja di sini yang kelas satu? Tunjuk tangan ya. Nah, yang kelas satu ikut Kakak Reza ya. Yang kelas tiga di sini berapa orang? Hmmm, kelas tiga ama siapa ya (sambil celingukan)?” Gue: (komat-kamit kecil) Jangan gue, jangan gue… Sri: Yang kelas tiga ama Kakak Hana ya! Anak kelas tiga: Yaaaaaaaa… (gue ga tau ini “ya” positif ato negatif) Gue: Yaaa kalian kecewa ya <—(ga berani ke-geer-an), (nengok ke Laura ama Ata) temenin gue plis… Akhirnya pergilah kita ke pojok Selatan mesjid. Kita kedapetan tiga calon pria tampan bernama Faqih, Epul, sama Farhan. Ata: Hari ini kita mau belajar apa? Mau belajar buat ulangan? Ato ada PR? Epul: Kalo ulangan masih Juni, Kak. Matematika aja. (ngeluarin PR matematika) Ternyata mereka lagi belajar luas sama keliling. Ama luas bidang tak teratur. Tak teratur? Sempet bingung gue, masa ini anak mo diajarin integral? Perkalian aja dia belom apal. Lalu gue ngeh kalo ada kotak-kotak pembantu di gambar itu. Tinggal ngitung kotak yang areal kena bidangnya lebih dari setengah. O iya ya. Beralihlah kita ke soal lain: ada persegi panjang dengan panjang 9 kotak, lebar 14 kotak. Berapa kelilingnya? Faqih: p x l Gue, Ata, Laura: Bukan dek, p x l itu rumus luas blablabla (menjelaskan luas dan keliling)… jadi keliling itu 2(p + l). Yuk, coba dikerjain soalnya… Faqih: Teteh dari Jakarta ya? Gue: (Easily distracted) Wahaaaa kok tahu sih? Faqih: Ketauan dari cara ngomongnya. Gue: (Thinking this kid’s impressive) Kalo kakak yang ini dari mana? (nunjuk ke Laura) Faqih: Dari Inggris! Gue: Wahahahaha (ketawa girang) Untung yang ngajarin anak kecil bukan cuma gue doank, kalo ga pasti gue udah kemakan setting forum para bocah dan maen tebak daerah. Jadi kembalilah kita ke topik asal… Gue: Oit, kalian suka maen bola ga? Para bocah: Sukaaa! (btw ternyata, si Farhan ini katanya MVP, dibilang El Loco Gonzales sama temen-temennya) Gue: Nah, pernah ga kalian disuruh lari keliling lapangan sama pelatihnya (kalo ada)? Misalnya panjang lapangannya 9 kotak, lebarnya 14 kotak. Kalo kalian disuruh keliling lapangan, kalian larinya di mana? Faqih: (jarinya ngiterin keliling gambar) Gue: Nah, oke. Kalo gitu kalian jalan 9 kotak, trus 14 kotak, trus 9 kotak, trus 14 lagi. Kalo gitu Kakak kasih pilihan, misalnya si pelatih nyuruh kalian keliling lapangan, dia nyuruh kamu lari 9 x 14 kotak…… eh 9 x 14 berapa, Ta? (nengok ke Ata) Nah, di sini gue merasa perlu memberikan pembelaan buat diri gue sendiri. Gue tahu kok kalo 9 x 14 adalah 126. Gue tahu cara menghitungnya, dan dalam keadaan biasa gue bisa menghitungnya tanpa perlu Phone-a-Friend. Kalo engga mah, gue bener-bener ada di Fisika ITB cuma buat bunuh diri. Tapi ini keadaan luar biasa boi, gue berhadapan sama anak kecil, dan gue tegang. Kalo gue tegang, otak gue shutdown. Jangan salahin gue ya kalo susah mikir; gue yakin kok banyak cewe di luar sana yang otaknya mati kalo ketemu Justin Bieber. Gue: Yak, kalo kalian disuruh lari keliling lapangan, kalian disuruh lari a)126 kotak atau b)46 kotak? Faqih: (terdiam sebentar terus nunjuk opsi A) Gue: Salah! Kalau kalian disuruh lari 126 kotak, artinya kalian DITIPU! (Masa mau disuruh pemanasan lebih dari seharusnya?? Kapan main bolanya?) Faqih: Jadi… p x l! Epul: 4 x s! (agak bener, tapi buat persegi) Farhan: p + l! (lah, kok jadi tebak rumus?) Jadi kita mencoba metode lain, yaitu metode fisik. Kita bikin batasan di ubin mesjid, terus mereka diajarin ngitung kelilingnya. Ata: Nih, perhatiin kakak ya. 1, 2, 3, 4… (jalan di sekeliling ubin-ubin) Sekarang kalian yang coba. Sekilas mereka tampak mengerti, tapi kok tiap mereka ngitung, jumlahnya ganjil? Sesaat itu, gue bener-bener jadi paham perasaan dosen gue. Begini toh rasanya, ternyata ada ya anak yang bener2 batu. Ampuni saya, Pak. Kalau Bapak tidak menyerah sama saya, saya pun tidak akan menyerah sama bocah-bocah pewaris bangsa ini! *hati mulai tergerak, SEDIKIT* Dalam kebimbangan mereka menghadapi persoalan hidup ini, datanglah teman mereka membawa godaan iman (baca: makanan kecil). Eaaa, lantaslah mereka nyamperin makanan, terus berlarian berhamburan. Gue: Ya Allah, tolong Baim, ya Allah… Akhirnya anak yang hilang kembali lagi. Dan kembali berkutat dengan persoalan luas dan keliling. Ata: Kan kalau keliling itu jumlah ubin yang kalian kiterin… Kalau luas itu…. eh gimana ya luas itu? Gue: (ke para bocah) Coba kalian guling-guling. Para bocah: (guling-guling saling nimpa) Gue: Bukan! (Ditimpali para bocah, “Lah katanya disuruh guling-guling?”) Coba guling-gulingnya yang agak teratur. Para bocah: (berguling yg teratur) Laura: Naah, luas itu berapa banyak kotak yang kena badan kalian pas kalian guling-guling! Akhirnya sebagai suatu insentif, biar bocah-bocahnya anteng dan niat dengerin, kita bikin lomba itung luas dan keliling, yang menang boleh pilih traktiran. (N.B. Hal ini sebenernya ga boleh dilakukan, takutnya jadi kebiasaan, dan nanti anak-anaknya ngelunjak. Cuma ketika itu gue merasa perlu menaikkan bargaining position. Yah, pembenaran yang salah sih) Tiba-tiba adzan maghrib, dan kegiatan dipause dulu untuk sholat. Nah, kelar sholat, bocah-bocah berhamburan dulu. Terus ada anak yang narik turun celana temennya. Aw! Kontan gue langsung melindungi mata innocent gue beserta kehormatan si temen itu. Nah, muncullah si bocah yang tadi bawa makanan. Mungkin karena ditraktir kali ya, naluri bocah ini menarik dia kembali ke spot kita dan minta ikut lomba. Para bocah: Kak! Ah dia mah kelas lima! Bocah ini tampangnya mirip sama temen gue yang namanya Eja, jadi gue manggil dia Eja. “Eja”: Engga ih engga, aku mah kelas tiga! Sebenernya sih gue bakal percaya-percaya aja kalo dia bilang dia kelas tiga, secara badannya seukuran ama si Faqih. Tapi buat jaga-jaga, gue ragukan saja, karena aku tak mau didustai lelaki. Ahey! Gue: Eh, ini lagi di mesjid loh kita, kamu yakin kan ga mau bohong di sini (Terus akhirnya dia ngaku kalo dia kelas lima). Oiya Eja, kalo kelas lima, ajarin dong temen-temennya. “Eja”: Loh kok Eja sih? (manyun, ga terima dipanggil Eja) Tapi karena lupa namanya, di sini kalau kita mau menyebut bocah itu, kita sebut saja “Eja”. Nah si Eja ini akhirnya dengan gaya yang arogan (tapi harus diakui, cukup keren juga) memamerkan kebolehannya menghitung luas dan keliling kotak. Yah, dan akhirnya, setelah waktu yang lama, dan dengan kombinasi keteguhan hati para pengajar *halah* dan bisikan-bisikan dari si Eja, akhirnya ada yang bisa ngejawab pertanyaan luas-keliling dengan tepat. Waktu kita mau keluar makan, kita ketemu ama si Robbi. Wah kayaknya emang pawang deh si Robbi ini, bocah-bocahnya anteng deh ama dia. Terus, si Robbi nanyain ke bocah-bocahnya, nama kakak-kakaknya (maksudnya gue, Laura, ama Ata). Terus mereka lupa nama kita. Hahaha. Gue sih udah santai ketawa-ketawa aja. Mungkin karena gue udah memiliki ekspektasi rendah dari awal terhadap anak kecil, jadi ketika bertemu anak-anak kecil ternyata ga seburuk yang gue sangka, gue hepi-hepi aja. Perkenalan lagi deh: Yang ini Kakak Ata, Atalamualaikum. Yang ini Kakak Laura, inget Cinta Laura (Gue: Kalo yang ini mah Cina Laura). Yang ini Kakak Hana (tidak mendapatkan analogi, huks). Akhirnya kita pergi makan baso ama mie ayam bersama The Bocahs (sekali lagi saya tegaskan, ini tidak boleh dibiasakan). Saat pulang, ada beberapa hal yang gue simpulkan dari pengalaman hari itu: 1. Ternyata saya tidak sebenci itu sama anak kecil, haha 2. Kelemahan metode belajar yang terlalu menekankan pada rumus, sehingga si anak tidak memahami secara konseptual persoalan yang dihadapi. Terutama penekanan one-size-fits-all dari pengenalan suatu rumus, bukannya asal-usul rumus tersebut, sehingga suatu rumus terkesan dapat menjawab semua kasus. 3. Terkadang suatu materi memerlukan prasyarat pengetahuan sebelumnya. Jika prasyarat ini belum dikuasai, dan guru melanjutkan ke materi berikutnya, siswa akan sulit mengikuti pelajaran. (contoh pada bocah: ga paham perkalian; contoh pada gue: ga tau [dulu] kalo ada bilangan imajiner, terus itu mengacaukan kalkulus gue waktu TPB hahah) Dan tiba-tiba gue tersadar: PR para bocah itu belom dikerjain. Ups.
-
robbizidna reblogged this from skholeitb
-
robbizidna likes this
-
handayaniumi likes this
-
coratcoretlora likes this
-
utara likes this
-
nayasa reblogged this from skholeitb
-
skholeitb posted this