May 8th, 2012

maryputri:

Saat membaur dengan anak-anak itu, aku melihat minat mereka yang berbeda-beda.

Dinda, contohnya.. ia tidak suka berhitung ataupun menulis huruf dan angka. tapi ia sangat menikmati menari dan kegiatan2 menggerakkan tubuh dengan harmonis.

Icha. dia iseng, bandel.. tapi begitu ada hp, dia langsung…

December 1st, 2011

notulensi roadshow Indonesia Mengajar

Pada roadshow Indonesia mengajar tanggal 29 November 2011 kemarin, Pak Anies Baswedan menyampaikan perkenalan tentang Indonesia Mengajar, antara lain:

Indonesia memiliki banyak tantangan, republik ini hadir bukan untuk memenuhi suatu cita-cita karena cita-cita dapat direvisi, republik ini hadir untuk menepati janji yang merupakan komitmen untuk dilunasi, yaitu yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945: memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Meskipun secara konstitusional ini merupakan tanggungjawab pemerintah, namun kita juga dapat bisa ikut berpartisipasi ke dalamnya. pilihan kita ada dua: lipat tangan atau turun tangan dalam membantu negara mewujudkan janjinya terhadap rakyat.

Dari data yang ada, 21% sekolah di perkotaan kekurangan guru, sementara di pedesaan 37%, daerah terpencil 66%, sehingga di seluruh Indonesia terdapat 34% sekolah yang kekurangan guru. Sementara ada banyak sekolah yang kelebihan guru. Sedangkan untuk kualitas gurunya sendiri, dari nilai maksimal 11, rata-rata kualitas guru di provinsi-provinsi di Indonesia hanya mencapai angka 3,7. Dan tidak ada satupun yang menembus nilai setengah dari nilai maksimal tersebut.

Oleh karena itu indonesia mengajar mencoba mengundang putra-putri bangsa terbaik bangsa ini untuk Turun Tangan sebagai pengajar muda yang akan ditempatkan di daerah terpencil. Pengajar muda ini hadir di daerah terpencil tersebut tidah hanya sebagai pengajar, namun diharapkan dapat menjadi inspirasi dan role model bagi masyarakat di sekitarnya. Selain itu pengajar muda juga diharapkan menjadi visualisasi atas mimpi mereka terhadap anak-anak mereka di masa depan dan menjadi jendela masyarakat untuk membuka dunia. Masyarakat disana pada umumnya ingin anak-anak daerah mereka pun dapat menjadi seorang yang berpendidikan tinggi. Namun pola pikir masyarakat disana pada umumnya masih “buat apa sekolah tinggi-tinggi, toh bakal jadi nelayan juga”. Pola berpikir macam itulah yang coba untuk diubah oleh para pengajar muda ini.

Selain itu diharapkan ketika pengajar muda ini kembali dari tugasnya, mereka membawa kabar baik bagi Indonesia betapa begitu banyak potensi yang ada di Indonesia sehingga membuat kita optimis dengan kehidupan Indonesia ke depannya.

Pengajar muda ini di tempatkan di 14 provinsi di Indonesia, di tempat-tempat yang terisolasi dan tantangan yang sangat luar biasa. Gerakan ini akan tetap kecil, namun memiliki efek yang besar karena pengajar ini juga akan memiliki hubungan dengan masyarakat di sekitar dan menjalin tenun kebangsaan. Kejadian seperti ini berdampak besar bukan hanya asumsi, imajinasi, atau ekspektasi dari Pak Anies saja, namun sudah ada bukti nyata dari program dahulu kala yaitu PTM (pengajar tenaga mahasiswa) yang dilakukan pada tahun 1952-1962 sehingga muncul lonjakan mahasiswa dari kelas menengah kebawah dan adanya kaum kelas menengah yang baru. Ini membuktikan bahwa pendidikan dapat menjadi eskalator sosial dan ekonomi. Namun sayangnya program ini menghilang dan diganti oleh KKN yang hanya 1/2 bulan saja.

Para pengajar muda ini mendapatkan banyak pengembangan diri disana, antara lain, ketangguhan, cara pengambilan keputusan, berdialog dengan masyarakat, dan masih banyak lagi. Sehingga sekembalinya dari sana diharapkan pengajar muda ini menjadi pemimpin yang kompeten dan tau kondisi rakyatnya. Di Indonesia ini sedikit sekali yang dapat menikmati kemewahan pendidikan hingga perguruan tinggi. Sehingga sebagai bagian dari yang sedikit itu kita harus berbagi agar tidak menjadi bagian dari banyak sekali orang yang memiliki kompetensi tingkat dunia namun tidak mengetaui kondisi dan kebutuhan rakyatnya.

November 17th, 2011

ganarfirmannanda:

Sabtu, 12 November 2011

Seperti biasa, kesederhanaan, cinta, gitar, dan bulan purnama. Romantisme malam itu terasa dikala theater di luar dunia sendiri, dunia kampus dengan tembok tingginya, dihiasi anak-anak kota bandung yang mungkin telah dilupakan. Yang berbeda adalah, kali ini pak gamesh mengeluarkan kata-kata saktinya, khusus untuk mahasiswa yang datang malam ini. Begini kira-kira monolog itu berjalan:

“jaman kalian sama jaman saya kuliah ini sungguh berbeda. Jaman ini, keadaan di Indonesia sudah semakin rusak, semakin sulit keadaannya. Lihatlah kalian disini, adik-adik disini. Baru 12 tahun, dengan 3 adik, sudah menjadi tulang punggung keluarga. Keadaan ini makin banyak terjadi, dibalik megahnya lampu kota bandung. Dan hal yang paling menyedihkan dari kemiskinan adalah “terbuang”. Coba lihat, adik-adik ini, mana boleh mereka sholat di salman, diusir mereka. lalu buat apa agama? Coba lihat, perempuan yang sudah remaja pasti sudah making love, yang laki-laki pasti sudah pernah disodomi, karena apa? Karena mrek ga punya keluarga, ga ada yang mlindungi mereka. Saya ga akan bangga kalian menjadi pegawai Freeport atau schlumberger, adik-adik ini ga bangga, masyarakat ga akan bangga. Yang saya bangga kalau kalian merebut saham-saham Freeport dan schlumberger itu, unuk mereka, adik-adik ini, masyarakat kita. Ya memang, kuliah jaman sekarang ini menjauhkan dari realita masyarakat. Agama menjauhkan dari masyarakat. Buat apa kalian belajar kalkulus, manfaatnya ga dapet kan. Buat apa buku-buku tebal itu, adik-adik disini ga merasakan manfaatnya. Mahasiswa-mahasiswa sekalian, ga perlu kalian jauh-jauh kesini, ada banyak juga keadaan seperti ini di sekitar kalian, di dago, monument, dan tmpat lain, cobalah liat , mereka semua membutuhkan kalian. Adik-adik ini ga butuh macem-macem kok, mereka ini Cuma butuh perhatian, tempat curhat, mereka Cuma butuh keluarga. Memang banyak pengorbanan yang dilakukan relawan disini, itu karena mereka sendirian. Kalau kita bergerak bersama tentu beban itu akan berkurang.”

…..

October 6th, 2011

kuruslurus:
Hampir setiap anak di Indonesia pasti klo disuruh gambar pemandangan, pasti ini yang keluar… ADA APA DENGAN 2 GUNUNG YANG MENCOS, DITENGAHNYA ADA MATAHARI, TERUS ADA JALAN MENUJU 2 GUNUNG ITU !?!?!?!?!?!?!? xixixixixi :D
hahaiii .. aku juga !!^_^
this. is. relevant.
saya mendapatkan pelajaran dan mempelajari fenomena ini selama dua semester di kuliah yang diajar oleh seorang profesor , sebuah kesalahan metode pendidikan sejak dini di Indonesia … .
salah satu hal yang saya bisa ambil pelajaran adalah ( sebuah pendapat pribadi ) , gambar ini muncul dan terus muncul , membuat anak2 lupa bahwa Indonesia , negerinya , buminya , sebenarnya adalah Negara Kelautan , Indonesia pada masa kerajaan sangat kuat dalam maritim. Ilmu kelautan dan kekuatan maritim sangat ditakuti , tapi semua berubah ketika negara api menyerang , yaitu kolonial penjajah pada waktu itu , kekuatan maritim diperlemah , kapal2 hanya boleh dibuat dengan batas ukuran tertentu , pendidikan dan pengetahuan yang diberikan kepada orang-orang bahwa Indonesia adalah negara pertanian , yang fokus ke daratan , semuanya pertanian , sehingga kita saksikan sekarang ini , yang terjadi , negera kita adalah negara maritim , yang luas laut nya lebih luas dari luas daratan , dan sayang sekali , kekuatan maritim kita sangat lemah (kasus sipadan-ligitan-pelanggaran zona-dsb) dan sangat fokus terhadap daratan , yang dulu pertanian , kini semua diubah ke industri . Negeri ini lupa akan jati dirinya …
Anak-anak tidak pernah mengenal laut dan tidak mampu membayangkan laut dengan segala macam isinya , yang dia gambar hanyalah pertanian dan itu juga SAWAHAnak-anak , saat menggambar di waktu kecil , lebih banyak mencontoh gambar jadi , kreatifitasnya tidak terasah dengan baik , dia terkungkung dengan sistem bahwa JAWABAN DIA HARUS SAMA DENGAN YANG DIKATAKAN GURU dan SAMA DENGAN YANG DITULIS DI BUKU
dia tidak mampu mencari kesimpulan sendiri dan lebih banyak meniru bahwa yang BANYAK adalah benar , padahal dalam menggambar tidak ada benar dan salah
anak-anak , pada masa nya , takut untuk mengeluarkan imajinasinya yang bertentangan dengan keadaan sekitar lewat gambarnya , anak-anak takut karena gambarnya akan dicap jelek-dsb , ketakutan untuk memunculkan ide-ide itu , akan berdampak sampai dia dewasa-kemudian tua , otak kanan yang berisi cita-rasa-seni-warna-kreatifitas-daya cipta tidak terakomodasi dengan baik :(
ini kalo dijabarkan panjang banget :) 

kuruslurus:

Hampir setiap anak di Indonesia pasti klo disuruh gambar pemandangan, pasti ini yang keluar… ADA APA DENGAN 2 GUNUNG YANG MENCOS, DITENGAHNYA ADA MATAHARI, TERUS ADA JALAN MENUJU 2 GUNUNG ITU !?!?!?!?!?!?!? xixixixixi :D

hahaiii ..
aku juga !!
^_^

this. is. relevant.

saya mendapatkan pelajaran dan mempelajari fenomena ini selama dua semester di kuliah yang diajar oleh seorang profesor , sebuah kesalahan metode pendidikan sejak dini di Indonesia … .

salah satu hal yang saya bisa ambil pelajaran adalah ( sebuah pendapat pribadi ) , gambar ini muncul dan terus muncul , membuat anak2 lupa bahwa Indonesia , negerinya , buminya , sebenarnya adalah Negara Kelautan , Indonesia pada masa kerajaan sangat kuat dalam maritim. Ilmu kelautan dan kekuatan maritim sangat ditakuti , tapi semua berubah ketika negara api menyerang , yaitu kolonial penjajah pada waktu itu , kekuatan maritim diperlemah , kapal2 hanya boleh dibuat dengan batas ukuran tertentu , pendidikan dan pengetahuan yang diberikan kepada orang-orang bahwa Indonesia adalah negara pertanian , yang fokus ke daratan , semuanya pertanian , sehingga kita saksikan sekarang ini , yang terjadi , negera kita adalah negara maritim , yang luas laut nya lebih luas dari luas daratan , dan sayang sekali , kekuatan maritim kita sangat lemah (kasus sipadan-ligitan-pelanggaran zona-dsb) dan sangat fokus terhadap daratan , yang dulu pertanian , kini semua diubah ke industri . Negeri ini lupa akan jati dirinya …

Anak-anak tidak pernah mengenal laut dan tidak mampu membayangkan laut dengan segala macam isinya , yang dia gambar hanyalah pertanian dan itu juga SAWAH
Anak-anak , saat menggambar di waktu kecil , lebih banyak mencontoh gambar jadi , kreatifitasnya tidak terasah dengan baik , dia terkungkung dengan sistem bahwa JAWABAN DIA HARUS SAMA DENGAN YANG DIKATAKAN GURU dan SAMA DENGAN YANG DITULIS DI BUKU

dia tidak mampu mencari kesimpulan sendiri dan lebih banyak meniru bahwa yang BANYAK adalah benar , padahal dalam menggambar tidak ada benar dan salah

anak-anak , pada masa nya , takut untuk mengeluarkan imajinasinya yang bertentangan dengan keadaan sekitar lewat gambarnya , anak-anak takut karena gambarnya akan dicap jelek-dsb , ketakutan untuk memunculkan ide-ide itu , akan berdampak sampai dia dewasa-kemudian tua , otak kanan yang berisi cita-rasa-seni-warna-kreatifitas-daya cipta tidak terakomodasi dengan baik :(

ini kalo dijabarkan panjang banget :) 

(via aseptia)

August 23rd, 2011

Lomba #17an SKHOLE

20 - 21 Agustus 2011

Kebon bibit, sabtu pukul 2 siang. suara bocah-bocah itu mulai terdengar di mesjid jihadul wasilah, dimana kami sedang menjalankan briefing singkat sebelum eksekusi. Bocah 4 tahun datang mengenakan baju pink yang pertama muncul, ohh how cute she is. dialah si malaikat kecil, bernama zalfa. keheninganpun segera berubah menjadi arena tawa anak-anak, tak mengenal tempat, tak mengenal waktu. komentar kakak-kakak, “ah capek maen sama mereka, ga habis-habis tenaganya, tapi mereka menyenangkan banget, hehe”. ya tenaga muda kami dikalahkan oleh semangat ceria anak-anak ini.

Zalfa, si malaikat kecilpersiapan lomba

Sabtu setengah 4 sore. Kegiatan sholat di mesjid sudah selesai dilakukan, saatnya menunjukkan siapa kita, anak-anak Indonesia di bulan agustus, yaitu keceriaan dan semangat 17an. Lomba pertama adalah lomba pecah balon, lumayan lah buat seger-seger di sore bulan puasa. Semakin panas lapangan lomba, semakin banyak anak-anak yang datang. Babak demi babak dilewati mereka, pertarungan memcahkan airpun semakin seru. Tak hanya air yang mereka pecahkan, tali rafia perengan pun dipukul hingga putus, ah anarkis (baca: semangat) kali ini.

suasana arena lempar air

lempar air 2

Pukul air beres, saatnya beralih ke joget balon. lomba yang biasa memang, tapi keberadaan mereka menjadikan suasana sore ini luar biasa. ada yang hanya beberapa detik bertahan ada pula yang sampai entah berapa menit bertahan dengan posisi kepala seperti itu, dan memang harus menjatuhkan rivalnya untuk menang. Setelah lomba ini, pertandingan futsal digelar. komentar dari kakak-kakaknya lagi, “ini bocah-bocah kok jago ya, puasa padahal. gw aja kalah kayaknya.” namanya anak-anak, kalo udah liat bola ga akan berenti, dan baru berenti 10 menit sebelum adzan magrib.

joget balon 1joget balon 2joget balon 3joget balon 4

Paralel dengan pertandingan futsal, para gadis cilik tak begitu saja dianggurkan, atau hanya jadi pesorak buat yang cowok. Kakak-kakaknya coba mengenalkan “kartu lebaran” kepada mereka, yang pada jaman ini udah kalah populer ketimbang sms yang makin murah. Dibantu kakak-kakak yang kreatif akhirnya kartu lebaran versi adik-adikpun bisa selesai. Nah akhirnya beres untuk hari pertama.

futsal in actionfutsal 2

Hari kedua, minggu sore. lomba-lomba baru dimulai lagi setelah sholat ashar selesai, kali ini tempatnya di dalam mesjid. Kalo kemaren lombanya di luar, sekarang di dalam ruangan semua (red: kakak-kakaknya udeh capek kayaknya, ato takut item ye). Ya, edisi kali ini tidak mengeluarkan keringat, tapi tetep kreativitas mereka harus dikeluarkan, lomba kali ini adalah menggambar, mewarnai, dan adzan.

adik 1adik 2

Yang ikut mewarnai tiba-tiba rame sekali. ternyata eh ternyata bukan adek-adeknya aja yang mewarnai, kayaknya kakak-kakaknya pada ngikut mewarnai semua. Terimakasih kepada Jamika yang sudah membuat gambar unik nan lucu ini, yang bisa membuat kakak-kakaknya semua jadi MKKBS (masa kecil kurang bahagia sekali)

mewarnai 1menggambar 2

Lomba menggambar juga ga kalah seru loh, bermacam-macam gambarnya, pokoknya inti temanya adalah kemerdekaan. Yah tapi tetep aja namanya anak-anak, gambarnya ga jauh dari tema dua gunung. Memang alam Indonesia yang indah menyita minat orang-orang untuk menggambarnya.

menggambar 1

Para bocah cecowok ga mau kalah unjuk suara dong. Dengan sarung atao celana panjang, baju koko. suara adzan pun mulai terdengar, satu per satu keluar dengan indah, memenuhi ruangan mesjid. Kelak merekalah yang akan menyiarkan adzan di RW ini. Ada yang modal berani aja, dan memang ada juga yang udah jago, salut salut.

adzan 1adzan 2

August 4th, 2011

ITB Mengajar

chacacuap:

Sebenernya, semenjak 2 tahun yang lalu gue sempet trauma banget sama anak kecil. Sebangsa bayi, balita dan anak SD. ya personal issues lah ya. trauma banget sama anak-anak. trauma. gue nangis sejadi-jadinya, tiap liat iklan pun rasanya gue pengen galau gitu. masalah gue bukan sekedar masalah abal-abal. sampe akhirnya gue kyk orang sakit jiwa.

Masuk ITB, menjauh dari Depok. ya sedikit-sedikit bisa ngeikhlasin traumanya. tapi tetep aja tiap denger bayi nangis ya gue ikutan nangis. gue ke psikolog, cerita semua. dari a sampe z ttg masalaha gue.

Yak, healing-nya dengan intens berkomunikasi dengan anak kecil. awalnya takut banget. mulai diajakin Oda (temen SMA) ke Panti Asuhan Bayi Sehat Bandung. pusing. mau nangis. mau muntah ngeliat bayi dan balita disana. sumpah, gue ga kuat waktu itu. sampe akhirnya gue intens ke panti asuhan itu, main sm bayi-bayi nya. bantu-bantu pengurusnya.

Ga sengaja liat pamflet di parkiran SR ttg ITB mengajar. dan berharap dengan ikut ini bener-bener akan nyembuhin gue dr trauma anak kecil. awalnya canggung dan malu. main-main sama anak2 kurang mampu di panti. haru banget. mereka ternyata jauh lebih bersemangat drpd yg gue pikirin. mereka suka ngajar. main band. gue sedih campur seneng. gue sedih karena gue bodoh banget bisa trauma sm makhluk Allah yg paling oke. gue seneng karena akhirnya gue bebas dr rasa takut dan bersalah gue dulu.. sampe sekarang gue masih ngajar di Rumah Belajar Skhole. dan bisa jd orang biasa, bahkan makin cinta sm anak kecil.

Ini cerita gue (fakta). gimana cerita lo? ha? gapunya?? AYO GABUNG DI SKHOLE, ITB MENGAJAR :D

June 19th, 2011

nayasa:

ganarfirmannanda:

Theater Purnama Rumbel Sahaja Ciroyom

Sabtu, 18 Juni 2011

Semula tempat ini gelap, sunyi dan hampa tanpa kehidupan, atap Pasar Bermartabat Ciroyom, sebuah tempat parkir yang beratapkan langit. Malam ini suasana sangat lain, begitu meriah, bermandikan cahaya halogen yang lembut dan lilin yang romantis, bulan purnama berwarna merah yang indah, lampu kota di kejauhan, gelak tawa anak-anak menggelegar, dan pemuda-pemuda yang berkumpul disini.

Malam minggu ini begitu meriah, yah sebut saja ini sabtu malam bagi mereka yang tidak merayakan malam mingguan. sesuai namanya, acara ini semula akan menampilkan theater, yah namanya anak-anak, entah karena kami yang datang banyak, muka kami kurang familiar, atau kami terlihat seperti penjahat, yang jelas mereka melu mementaskannya. Acarapun berganti menjadi nyanyi-nyanyian malam pengusir rasa dingin. yah suara nyanyian, goyangan dan tawa cukup mengusir dinginnya malam ini.

Semoga keriangan kecil malam ini bisa melupakan sejenak, perjuangan keras kehidupan anak-anak kecil ini yang harus mandiri sebelum waktunya menyusuri kehidupan jalanan mengais sedikit rezeki untuk merangkai mimpi masa depannya.

Bagi saya yang orang awan dan tak mengerti apa-apa tentang seluk beluk kehidupan disini ini adalah momen yang indah, melihat sisi hidup yang berbeda di luar tembok tinggi yang membentengi kampus, menghalangi pandangan mahasiswa melihat keluar.

mereka juga anak-anak Indonesia, hanya kita saja yang menambahkan jalanan di depan panggilan mereka, mulai sekarang sebut mereka ‘anak-anak Indonesia’ yuk :)
June 11th, 2011

nayasa:

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab - UU Sisdiknas, BAB II, pasal 3 

padahal, negara ini memiliki UU Sisdiknas, sistem pendidikan negara kita, yang lengkap, tapi ternyata kasus di atas, adalah bentuk nyata bahwa implementasi dari keberjalanan sistem yang telah dibuat negara kita berjalan kacau. salah siapa? pemerintah? guru? kita semua salah di sini, kita semua yang telah sadar bahwa ada yang salah dengan keberjalanan ini, tampak tidak ingin bangun untuk membenahi bahwa,’Ada yang salah lo disini!’

rasanya saat baca ini, sesak sekali di dada, ingin marah tapi tak tahu harus melampiaskannya ke siapa, dan akhirnya sesak berbuah menjadi tangis. Negara ini, padahal sudah amat baik, kita ‘dicekoki’ pelajaran Agama, Kewarganegaraan, dan Budi Pekerti selama 12 tahun, tapi apa hasilnya? memang tidak nol bulat sekali, tapi tak terasa gunanya. yang kita tau bahwa 3 mata pelajaran di atas, hanyalah hafalan-hafalan, tanpa ada aksi di kehidupan nyata. tak ada gunanya, benar-benar tak ada gunanny

iya, aku suka mengeluh, dan aku marah, tapi tak ada yang dapat aku lakukan

semoga negara ini, baik-baik saja, aamiin :’(

Kita pernah menjadi anak-anak, sedangkan anak-anak tidak pernah menjadi kita, orangtua. Oleh karena itu, dalam mendidik anak, masuklah ke dalam posisi anak kita, bukan memaksakan kehendak kita sendiri
Melly Kiong, dalam “Cara Kreatif Mendidik Anak” (via ganarfirmannanda)
nayasa:

ketemu kami yuk kakak-kakak
setiap senin-kamis, jam setengah 5 sore, di Kebon Bibit
sms ke : 08996171074

nayasa:

ketemu kami yuk kakak-kakak

setiap senin-kamis, jam setengah 5 sore, di Kebon Bibit

sms ke : 08996171074

June 5th, 2011

nayasa:

we are SKHOLE, WE DO FUN!

IKUT YUK

sms ke : 08996171074

June 2nd, 2011

merenungi sekolah

Pendidikan kadung dianggap identik dengan sekolah. Semacam proses sertifikasi dalam kegiatan belajar. Sampai tiba waktu memasuki dunia kerja, kumpulan ijazahlah yang menentukan ‘harga’ seseorang. Melihat fakta demikian, tak berlebihan rasanya jika dikatakan bahwa sekolah ibarat pabrik yang memproduksi robot-robot. Seorang lulusan sekolah kini tak ubahnya produk keluaran pabrik yang telah melewati sejumlah proses, dari pengolahan sampai quality control hingga dinyatakan siap pakai. 

Ketika mendaftar, siswa seperti bahan mentah yang siap diolah. Kemudian dibekali banyak informasi tanpa proses berpikir yang memadai sehingga yang mereka pelajari tidak nampak hubungannya dengan kehidupan sehari-hari. Sekolah seolah tidak lagi menjadi bagian dari proses pendidikan untuk membentuk manusia utuh, yang mumpuni menghadapi tantangan masa depan. Peserta didik hanya merasakan beban tugas yang besar serta tuntutan untuk mendapatkan nilai yang baik dalam ujian. Rasa senang dalam proses belajar pun berkurang. 

Membentuk manusia utuh bukanlah sekedar menginstal berbagai keterampilan praktis atau pengetahuan yang bisa membuatnya memperolah penghasilan sendiri. Lebih dari itu ia harus dibekali kemampuan berpikir kritis, sehingga mampu untuk menelusuri kebenaran dengan nalarnya sendiri, bukan sekedar mengutip guru atau menyalin buku. Ia pun harus dituntun dalam membentuk kepribadiannya, selain bagaimana berpikir, juga bagaimana ia bersikap, hingga bisa konsisten pada sumber nilai yang dipegangnya dalam hidup. Juga dilatih menghadapi pilihan-pilihan hingga belajar memutuskan dan bertanggungjawab.

Proses yang dijalani pun sebaiknya tidak seragam, harus mempertimbangkan kondisi unik setiap individu. Manusia, sekalipun sama-sama memiliki akal, kemampuan jasmani, serta sejumlah insting, namun komposisinya berbeda-beda. Ada yang pandai bernyanyi, namun tidak menunjukkan prestasi yang baik dalam atletik, ada yang pandai matematika namun gagap ketika berbicara, ada juga yang tidak bisa menggambar namun mudah sekali berteman. Terkait hal ini, ada yang menarik dari film The Blind Side (2009) , yaitu bagaimana orang-orang di sekeliling Michael Oher—seorang anak afro-american yang dianggap bodoh—berupaya untuk mengoptimalkan potensi besar yang dimilikinya dengan menggunakan kekuatannya sendiri. Ketika hasil tes tulis Michael sangat buruk, gurunya mencoba mengevaluasi Michael secara verbal, melalui proses dialogis, dan nyatanya perkembangannya signifikan. Big Mike tidak bodoh, namun sistem evaluasi sekolah yang biasa tidak mampu mengukur kemampuannya dengan akurat.

Permasalahan ini bukanlah hal baru. Sudah banyak kisah tokoh dunia yang karya-karyanya sangat mengagumkan namun pernah memiliki sejarah kelam di sekolah. Akan tetapi, bukti-bukti empiris itu belum cukup untuk menginspirasi sistem pendidikan kita untuk menyudahi kebiasaan buruk merobotkan peserta didik. Untuk mengatasi kelemahan sistem pendidikan ini, sejumlah orangtua memutuskan untuk meng-homeschooling-kan anaknya; beberapa institusi pendidikan yang progresif membuat sistem baru untuk mengoptimalkan perkembangan potensi anak didik yang lebih beragam, bukan hanya aspek kognitifnya. Ada yang memberi lebih banyak kebebasan berkreasi; mendekatkan proses pendidikan dengan alam; pendekatan religius; ada juga yang menggunakan teori multiple intelligence ala Howard Gardner. Hanya saja, ketika upaya menyelamatkan generasi ini hanya dilakukan sejumlah sukarelawan atau segelintir institusi pendidikan yang peduli, bagaimana nasib jutaan anak-anak lain yang belum terakses? 

oleh Rira Nurmaida, Fisika ITB 2004

(Source: facebook.com)

nayasa:

here, he is, Anies Baswedan, watch him!

May 24th, 2011

ITB Mengajar: Mengajari Anak Memahami Luas dan Keliling, Mengajari Saya (Sedikit Lebih) Menyukai Anak Kecil

ditulis oleh Hana Rosami, Fisika 2007, kesan pertama kali dia mengajar di SKHOLE

Gue ga suka anak kecil.

Demi bangsa dan almamater, gue ga suka anak kecil. Kayaknya emang itu faktor keturunan deh. Nenek gue ga suka anak kecil. Emak gue ga suka anak kecil. Babeh gue ga bisa bedain mana anak kecil mana anak anjing. Mungkin itu karena di kampung gue, anak kecil dan anjing sama-sama dimakan (ini bohong, tapi ada yang percaya lho). Bahkan ketika ngejenguk sodara gue yang masih bayi, selagi orang-orang lain pada gendong2 cubit2 dan unyu2, gue cuma berani meletakkan ujung jari gue selama 3 detik di permukaan kulitnya yang tampak paling tidak sensitif, trus menyingkir ke pojokan dan menyeringai tiap sodara-sodara gue ngomong, “baaaa!”

Maaf ya, pria-pria yang kecewa, ternyata gue bukan calon istri idaman kalian *halah*

Eh, tapi notes ini bukan tentang ketidaksukaan gue ama anak kecil.

Jadi, begini, Senin tanggal 23 Mei 2011, gue mencoba ikut ngajar bocah-bocah Pelesiran bareng SKHOLE (http://skholeitb.wordpress.com/ , http://skholeitb.tumblr.com/ , follow twitter @ITBMengajar).

Kejadiannya pun random: gue lagi duduk-duduk lapuk di himpunan, terus lewatlah beberapa temen gue. Pas gue tanya mau ke mana, mereka bilang mau ngajar anak-anak SD di Kebon Bibit. Entahlah, mungkin karena kejiwaan gue yang sedang tergoncang akademik, gue melakukan hal yang tidak disangka-sangka: gue menyatakan kalau gue mau ikut SKHOLE.

Ata dan Laura tampak sedikit tertegun. Naya tampak tidak percaya. Tapi biarlah. Terkadang, ketika ilham menghampiri manusia, manusia akan menantang dirinya sendiri. Sebagian orang akan terjun dari tebing. Sebagian lagi akan ngebut-ngebutan. Almarhum Chris McCandless menyusuri sebagian dari Amerika dan mendaki Denali di Alaska. Hana akan menghadapi B.O.C.A.H.

Berangkatlah pasukan menuju Kebon Bibit. Sesampainya di TKP, kita berkenalan dengan beberapa belas anak usia SD. “Nama saya Hana, dari Fisika ITB. Halo!” disambut dengan sopan oleh anak-anak, “Halo.”

Hmmm. Mungkin lain kali “Fisika ITB”nya ga perlu disebut.

Selesai perkenalan, si Sri – yang tampaknya paling berpengalaman di sini – memasang-masangkan anak-anak dengan para pengajar, “Siapa aja di sini yang kelas satu? Tunjuk tangan ya. Nah, yang kelas satu ikut Kakak Reza ya. Yang kelas tiga di sini berapa orang? Hmmm, kelas tiga ama siapa ya (sambil celingukan)?”

Gue: (komat-kamit kecil) Jangan gue, jangan gue…

Sri: Yang kelas tiga ama Kakak Hana ya!

Anak kelas tiga: Yaaaaaaaa… (gue ga tau ini “ya” positif ato negatif)

Gue: Yaaa kalian kecewa ya <—(ga berani ke-geer-an), (nengok ke Laura ama Ata) temenin gue plis…

Akhirnya pergilah kita ke pojok Selatan mesjid. Kita kedapetan tiga calon pria tampan bernama Faqih, Epul, sama Farhan.

Ata: Hari ini kita mau belajar apa? Mau belajar buat ulangan? Ato ada PR?

Epul: Kalo ulangan masih Juni, Kak. Matematika aja. (ngeluarin PR matematika)

Ternyata mereka lagi belajar luas sama keliling. Ama luas bidang tak teratur. Tak teratur? Sempet bingung gue, masa ini anak mo diajarin integral? Perkalian aja dia belom apal. Lalu gue ngeh kalo ada kotak-kotak pembantu di gambar itu. Tinggal ngitung kotak yang areal kena bidangnya lebih dari setengah. O iya ya.

Beralihlah kita ke soal lain: ada persegi panjang dengan panjang 9 kotak, lebar 14 kotak. Berapa kelilingnya?

Faqih: p x l

Gue, Ata, Laura: Bukan dek, p x l itu rumus luas blablabla (menjelaskan luas dan keliling)… jadi keliling itu 2(p + l). Yuk, coba dikerjain soalnya…

Faqih:  Teteh dari Jakarta ya?

Gue: (Easily distracted) Wahaaaa kok tahu sih?

Faqih: Ketauan dari cara ngomongnya.

Gue: (Thinking this kid’s impressive) Kalo kakak yang ini dari mana? (nunjuk ke Laura)

Faqih: Dari Inggris!

Gue: Wahahahaha (ketawa girang)

Untung yang ngajarin anak kecil bukan cuma gue doank, kalo ga pasti gue udah kemakan setting forum para bocah dan maen tebak daerah. Jadi kembalilah kita ke topik asal…

Gue: Oit, kalian suka maen bola ga?

Para bocah: Sukaaa! (btw ternyata, si Farhan ini katanya MVP, dibilang El Loco Gonzales sama temen-temennya)

Gue: Nah, pernah ga kalian disuruh lari keliling lapangan sama pelatihnya (kalo ada)? Misalnya panjang lapangannya 9 kotak, lebarnya 14 kotak. Kalo kalian disuruh keliling lapangan, kalian larinya di mana?

Faqih: (jarinya ngiterin keliling gambar)

Gue: Nah, oke. Kalo gitu kalian jalan 9 kotak, trus 14 kotak, trus 9 kotak, trus 14 lagi. Kalo gitu Kakak kasih pilihan, misalnya si pelatih nyuruh kalian keliling lapangan, dia nyuruh kamu lari 9 x 14 kotak…… eh 9 x 14 berapa, Ta? (nengok ke Ata)

Nah, di sini gue merasa perlu memberikan pembelaan buat diri gue sendiri. Gue tahu kok kalo 9 x 14 adalah 126. Gue tahu cara menghitungnya, dan dalam keadaan biasa gue bisa menghitungnya tanpa perlu Phone-a-Friend. Kalo engga mah, gue bener-bener ada di Fisika ITB cuma buat bunuh diri. Tapi ini keadaan luar biasa boi, gue berhadapan sama anak kecil, dan gue tegang. Kalo gue tegang, otak gue shutdown. Jangan salahin gue ya kalo susah mikir; gue yakin kok banyak cewe di luar sana yang otaknya mati kalo ketemu Justin Bieber.

Gue: Yak, kalo kalian disuruh lari keliling lapangan, kalian disuruh lari a)126 kotak atau b)46 kotak?

Faqih: (terdiam sebentar terus nunjuk opsi A)

Gue: Salah! Kalau kalian disuruh lari 126 kotak, artinya kalian DITIPU! (Masa mau disuruh pemanasan lebih dari seharusnya?? Kapan main bolanya?)

Faqih: Jadi… p x l!

Epul: 4 x s!  (agak bener, tapi buat persegi)

Farhan: p + l! (lah, kok jadi tebak rumus?)

Jadi kita mencoba metode lain, yaitu metode fisik. Kita bikin batasan di ubin mesjid, terus mereka diajarin ngitung kelilingnya.

Ata: Nih, perhatiin kakak ya. 1, 2, 3, 4… (jalan di sekeliling ubin-ubin) Sekarang kalian yang coba.

Sekilas mereka tampak mengerti, tapi kok tiap mereka ngitung, jumlahnya ganjil?

Sesaat itu, gue bener-bener jadi paham perasaan dosen gue. Begini toh rasanya, ternyata ada ya anak yang bener2 batu. Ampuni saya, Pak. Kalau Bapak tidak menyerah sama saya, saya pun tidak akan menyerah sama bocah-bocah pewaris bangsa ini! *hati mulai tergerak, SEDIKIT*

Dalam kebimbangan mereka menghadapi persoalan hidup ini, datanglah teman mereka membawa godaan iman (baca: makanan kecil). Eaaa, lantaslah mereka nyamperin makanan, terus berlarian berhamburan.

Gue: Ya Allah, tolong Baim, ya Allah…

Akhirnya anak yang hilang kembali lagi. Dan kembali berkutat dengan persoalan luas dan keliling.

Ata: Kan kalau keliling itu jumlah ubin yang kalian kiterin… Kalau luas itu…. eh gimana ya luas itu?

Gue: (ke para bocah) Coba kalian guling-guling.

Para bocah: (guling-guling saling nimpa)

Gue: Bukan! (Ditimpali para bocah, “Lah katanya disuruh guling-guling?”) Coba guling-gulingnya yang agak teratur.

Para bocah: (berguling yg teratur)

Laura: Naah, luas itu berapa banyak kotak yang kena badan kalian pas kalian guling-guling!

Akhirnya sebagai suatu insentif, biar bocah-bocahnya anteng dan niat dengerin, kita bikin lomba itung luas dan keliling, yang menang boleh pilih traktiran. (N.B. Hal ini sebenernya ga boleh dilakukan, takutnya jadi kebiasaan, dan nanti anak-anaknya ngelunjak. Cuma ketika itu gue merasa perlu menaikkan bargaining position. Yah, pembenaran yang salah sih)

Tiba-tiba adzan maghrib, dan kegiatan dipause dulu untuk sholat. Nah, kelar sholat, bocah-bocah berhamburan dulu. Terus ada anak yang narik turun celana temennya. Aw! Kontan gue langsung melindungi mata innocent gue beserta kehormatan si temen itu.

Nah, muncullah si bocah yang tadi bawa makanan. Mungkin karena ditraktir kali ya, naluri bocah ini menarik dia kembali ke spot kita dan minta ikut lomba.

Para bocah: Kak! Ah dia mah kelas lima!

Bocah ini tampangnya mirip sama temen gue yang namanya Eja, jadi gue manggil dia Eja.

“Eja”: Engga ih engga, aku mah kelas tiga!

Sebenernya sih gue bakal percaya-percaya aja kalo dia bilang dia kelas tiga, secara badannya seukuran ama si Faqih. Tapi buat jaga-jaga, gue ragukan saja, karena aku tak mau didustai lelaki. Ahey!

Gue: Eh, ini lagi di mesjid loh kita, kamu yakin kan ga mau bohong di sini (Terus akhirnya dia ngaku kalo dia kelas lima). Oiya Eja, kalo kelas lima, ajarin dong temen-temennya.

“Eja”: Loh kok Eja sih? (manyun, ga terima dipanggil Eja)

Tapi karena lupa namanya, di sini kalau kita mau menyebut bocah itu, kita sebut saja “Eja”. Nah si Eja ini akhirnya dengan gaya yang arogan (tapi harus diakui, cukup keren juga) memamerkan kebolehannya menghitung luas dan keliling kotak. Yah, dan akhirnya, setelah waktu yang lama, dan dengan kombinasi keteguhan hati para pengajar *halah* dan bisikan-bisikan dari si Eja, akhirnya ada yang bisa ngejawab pertanyaan luas-keliling dengan tepat.

Waktu kita mau keluar makan, kita ketemu ama si Robbi. Wah kayaknya emang pawang deh si Robbi ini, bocah-bocahnya anteng deh ama dia. Terus, si Robbi nanyain ke bocah-bocahnya, nama kakak-kakaknya (maksudnya gue, Laura, ama Ata).

Terus mereka lupa nama kita. Hahaha. Gue sih udah santai ketawa-ketawa aja. Mungkin karena gue udah memiliki ekspektasi rendah dari awal terhadap anak kecil, jadi ketika bertemu anak-anak kecil ternyata ga seburuk yang gue sangka, gue hepi-hepi aja.

Perkenalan lagi deh: Yang ini Kakak Ata, Atalamualaikum. Yang ini Kakak Laura, inget Cinta Laura (Gue: Kalo yang ini mah Cina Laura). Yang ini Kakak Hana (tidak mendapatkan analogi, huks).

Akhirnya kita pergi makan baso ama mie ayam bersama The Bocahs (sekali lagi saya tegaskan, ini tidak boleh dibiasakan). Saat pulang, ada beberapa hal yang gue simpulkan dari pengalaman hari itu:

1.       Ternyata saya tidak sebenci itu sama anak kecil, haha

2.       Kelemahan metode belajar yang terlalu menekankan pada rumus, sehingga si anak tidak memahami secara konseptual persoalan yang dihadapi. Terutama penekanan one-size­-fits-all dari pengenalan suatu rumus, bukannya asal-usul rumus tersebut, sehingga suatu rumus terkesan dapat menjawab semua kasus.

3.       Terkadang suatu materi memerlukan prasyarat pengetahuan sebelumnya. Jika prasyarat ini belum dikuasai, dan guru melanjutkan ke materi berikutnya, siswa akan sulit mengikuti pelajaran. (contoh pada bocah: ga paham perkalian; contoh pada gue: ga tau [dulu] kalo ada bilangan imajiner, terus itu mengacaukan kalkulus gue waktu TPB hahah)

Dan tiba-tiba gue tersadar: PR para bocah itu belom dikerjain. Ups.

May 23rd, 2011

nayasa:

hatihatiitb:

Our first episode : EPISODE 0

ITB student’s comments about ITB nowadays. Keep following us guys, there’s still more! :)

Don’t forget to follow our twitter, comments are very welcome :)

——

(updated) fixed sound! this is the better version. sorry for the mistake guys.

it’s about Mahasiswa ITB